Mendekati Allah Dalam Keseharian

sby-tmb.jpg

KH. Muchtar Adam
Pengasuh Pesantren “Babussalam” Ciburial Indah, Bandung

(petikan wawancara dari sufinews.com)

Manusia benar-benar merupakan makhluk Allah swt yang paling sempurna dibanding dengan makhluk-makhluk yang lain. Sehingga manusia memiliki nafsu dan sifat-sifat yang ada pada Allah swt (uluhiyyah), nafsu kemalaikatan, kemanusiaan (insaniyah-basyariyah), kebinatangan, dan kesyetanan. Karena itu, manusia yang mencintai Allah swt dan dicintaiNya, maka nafsunya akan cenderung kepada kebaikan (muthma’innah). Sebaliknya, manusia yang lebih mencintai syetan dan binatang, nafsunya akan cenderung kepada kejahatan dan keburukan, yang disebut sebagai nafsu ‘ammarah. Sedangkan nafsu yang dimiliki orang awam (umum) disebut nafsu lawwamah, karena kecenderungannya berubah-ubah antara baik dan buruk.

Dan, pada kenyataannya manusia modern sekarang ini lebih banyak yang mencintai syetan, binatang, dan tentu saja dunia-materi. Maka benar apa yang dikatakan Nabi Muhammad saw bahwa manusia lebih mencintai dunia dari pada mencintai Allah swt. Bahkan mereka sudah menghalalkan segala cara dalam hidupnya. Kata Nabi:”Ya’ty ‘alannazzaman laa yubaalul mar’u maa ahada minal halal wal haram—akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi memperdulikan yang halal dan haram (menghalalkan segala cara)”. Ini karena pengaruh hubbuddunnya.

Jika hal itu benar-benar berkembang, apalagi kalau diperhatikan gejala-gejalanya sekarang ini cocok dengan hadis nabi tersebut, maka dunia ini sudah di ambang kehancuran. Suatu kehancuran yang pasti diturunkan oleh Allah swt seperti yang pernah diturunkan kepada umat Nabi Nuh, Luth, Soleh, kaum ‘Ad, Tsamud, Sabah, Fir’aun, Korun dsb. Bahwa kehancuran itu karena tiga unsur yang mendominasi masyarakat; yaitu penguasa, pengusaha dan rakyat yang semuanya menghalalkan segala cara. Karena itu tidak mustahil Indonesia akan hancur seperti kehancuran yang diturunkan pada umat nabi-nabi dan kaum-kaum terdahulu, jika tidak kembali pada seruan Allah swt dan Rasulullah Saw. Berikut petikan wawancara Sufi dengan Pengasuh Pesantren “Babussalam” Ciburial Indah, Bandung Jawa Barat, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Bagaimana Anda melihat nafsu?
Nafsu itu selalu mengajak (cenderung) pada kejahatan. Oleh sebab kita harus terus berusaha mempelajari ma’rifatullah (mengetahui ajaran-ajaran Allah) untuk membersihkan diri (tazkiyatunnafs) dalam kerangka mampu membersihkan nafsu kejahatan dan keburukan, sehingga bisa mencintai Allah melebihi kecintaan kita terhadap yang lain. Itu metode sederhana (untuk mengarahkan nafsu) ini agar mencintai Allah. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, Yusuf, 53:”Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh TuhanKu. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Sesungguhnya nafsu itu bertingkat-tingkat. Di antaranya dari aspek kemanusiaan (insaniyah-basyariah) manusia bisa memiliki nafsu kemalaikatan (malakiyah), Ketuhanan (uluhiyyah), kemudian nafsu yang terendah adalah nafsu kebinatangan (hayawaniyah) dan kesyetanan (syaithoniyah). Semua itu ada pada manusia. Tapi, kalau manusia yang beriman itu mengerahkan nafsu itu untuk mencintai Allah melebihi segala-galanya, maka akan hilang nafsu dan pengaruh nafsu yang buruk dan jahat tersebut. Misalnya nafsu ‘ammarah ini cenderung kepada kejahatan, lawwamah cenderung pada baik dan buruk dan ini biasanya dimiliki oleh masyarakat awam. Kemudian nafsu muthma’innah, ini cenderung pada kebaikan (mahabbatullah) dan mahabbatullah ini biasanya sudah mencapai tingkat radliyah (orang yang mencapai keridloan Allah) dan dicintai Allah, seperti dijelaskan dalam Al-Quran Al-Fajr, 27-28:”Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ikhlas lagi diridloiNya”. Karena itu, dia akan memandang banwa musibah apa saja di dunia ini datangnya dari Allah.

Namun rodliyah itu ada hubungannya dengan tingkatan-tingkatan ibadah seseorang, yang tidak hanya sekadar melaksanakan kewajiban syara’ atau ubudiyyah. Sedangkan bagi ‘abuudah/’ubuudah ini ibadah yang sudah mencapai suatu kenikmatan yang bisa mencapai tingkatan hakikat. Oleh sebab itu dalam Islam ada tingkatan ibadah syariat, thariqat, dan hakikat.
Bagi yang sudah mencapai hakikat kuncinya “hua” yaitu wujud dari Allah, lalu “bihi” yaitu segala kejadian karena kekuasaan Allah, “minhu” yaitu segala apa yang menimpa pada diri seseorang itu berasal dari Allah. Lalu “ilaihi”, ia akan kembali pada Allah. Dan kalau nafsu manusia sudah mencapai tingkat ini, maka nafsunya tidak akan bergeser dari Allah. Sehingga kalau mendapat musibah justru ia merasa nikmat karena datangnya dari Allah. Dan itu bisa dicapai karena mahabbatullah, inilah yang disebut (rodliyah). Dan dengan kerelaannya itu ia akan mencapai mardliyyah, yaitu ia akan dilihat, diawasi dan dicintai oleh Allah swt.

Jadi ada nafsu khofy dan jaly?
Khofy dan jaly ada dalam dzikir yang disebut khalwat, berdua-duan dengan Allah setiap saat. Tapi, berkhalwat di tempat yang sepi itu gampang, yang sulit adalah di tengah keramaian era modern apakah sebagai (legislative, eksekutif, konglomerat dll). Dan bukan sesuatu yang mustahil bisa berkhalwat dengan Allah, sehingga ia akan jauh dari maksiat dan kemungkaran. Orang-orang seperti itulah yang kita harapkan bisa memberantas KKN misalnya melalui KPK (Komisi Pemberantas Korupsi), pengadilan, kejaksaan, kehakiman, aparat penegak hokum dan sebagainya.

Jadi, tidak semata-mata menghindari dunia. Yang penting jiwanya itu berkhalwat dengan Allah swt setiap waktu dalam kehidupannya dengan berusaha dirinya menjadi rahmatan lillalamain dan inilah yang akan dibawa pada Allah swt di akhirat kelak.

Nafsu mahabbatullah itu berarti bertingkat dan menghindari duniawi?
Yang ada adalah tingkatan-tingkatan. Kalau tingkatan puncaknya seperti Al-Hallaj, Rabiah Ad-Dimasq, Rabiah Adawiyah Syekh Siti Jenar, dll tentu akan meninggalkan dunia. Tapi di era modern ini meski berada di tengah keramaian duniawi dan tetap memberi cahaya ketuhanan dengan muthma’innah tetap bisa bersujud dalam seluruh aspek kehidupannya, maka inilah yang kita harapkan. Karena seperti kata Syekh Yusuf Makassar, bahwa inti ajaran Islam itu ma’rifatullah, ma’rifatullah itu adalah akhlak dan intisari dari akhlak tersebut adalah shilaturrahim dan inti shilaturrahim tersebut sebagaimana dikatakan Ali bin Abi Thalib ra. Adalah “Inna afdholal a’maala idkholus suruuri fi quluubil ikhwani—amal yang berat timbangannya adalah menyenangkan orang lain, memudahkan urusan orang lain, bukan mempersulit”. Jadi ia akan terjun ke tengah masyarakat dengan tetap berpegang pada nilai-nilai ilahiyah-Ketuhanan dengan memberikan ketauldanan (uswah), sehingga keberadaannya menjadi rahmatan lillamaian.
.
Seperti dicontohkan nabi ketika membetulkan sahabat yang salah dalam berwudhu, di mana beliau sangat menghargai hak asasi manusia. Waktu itu beliau melihat sahabat yang salah dalam berwudhu. Lalu beliau memanggil Ali agar mengajak sahabat itu berwudu lagi, contoh seperti itu karena nabi tidak ingin sahabat tersebut tersinggung.

Tapi umat sekarang kalau tidak diingatkan dengan terus terang tidak akan mengerti, akibat sudah menghalalkan segala cara dalam hidupnya. Sama sulitnya dengan perumpamaan-perumpamaan dalam Al-Quran dan yang bisa memahami hanya orang yang dalam ilmu pengetahuan agamanya (al-rosyihuun). Sekarang ini harus tegas dan hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Karena itu kata Al-Faraby, pemimpin negara itu harus filosofis, yaitu makin tinggi ilmunya, luas wawasannya dsb maka ia akan makin tawaddhu’, rendah hati, tidak sombong, tidak menggunakan otot-kekerasan, tapi menggunakan akal pikiran yang sehat.

Lalu apa bedanya dengan hawa nafsu?
Itu istilah Indonesia saja. Dalam Al-Quran ada hawanun kekuatan yang dimiliki oleh nabi dan ada tiga sumber hawanun yang mengakibatkan hancurnya manusia. Yaitu 1). Hawa muttaba’ kekuatan nafsu yang tidak bisa dibendung yang diikuti 2). sifat kikir, yang ditaati manusia, dan 3). Ijabul mar’i linafsi, yaitu ujub (sombong) manusia terhadap dirinya sendiri. Sedangkan dalam kata-kata nafsu dalam Islam hampir sama dengan Indonesia, yaitu hawa nafsu.

Artinya manusia banyak diperbudak oleh hawa nafsunya?
Ya. Itu nafsu yang berhubungan dengan syahwat. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Quran, Ali Imran, 14:”Dijadikannya indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda (kendaraan) pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah tempat kembali yang baik”.

Sekarang terbukti apa yang dikatakan nabi bahwa manusia lebih mencintai dunia (hubbuddunya) dari pada mencintai Allah swt. Bahkan kini sudah menghalalkan segala macam cara untuk memenuhi kepentingan hawa nafsu syathoniyahnya. Karena itu nabi bersabda:”Ya’ti ‘alannazzaman laa yubaalul mar’u maa ahada minal halal wal haram—akan dating suatu zaman di mana manusia tidak lagi memperdulikan yang halal dan haram (menghalalkan segala macam cara)”. Ini karena pengaruh hubbuddunya dan nafsu syaithoniyahnya menguasai seseorang dan karena itu harus diarahkan untuk mahabbatullah.

Masih adakah yang komitmen dengan nafsu uluhiyyah di era modern ini?
Ada. Tapi, kalau diperhatikan gejala-hejalanya sekarang ini, sudah di ambang kehancuran. Akibatnya ya itu tadi, pemimpin negera ini dari tingkat pusat sampai daerah, pengusaha dari yang pedagang kaki lima (PKL) sampai konglomerat, dan rakyat dari rakyat kecil sampai elit sudah sama-sama menghalalkan segala macam cara. Kalau itu terus berkembang dan tidak terkendali, saya khawatir Allah swt tidak lama lagi akan menurunkan adzab, musibah dan semacamnya yang pernah diturunkan kepada umat Nabi Nuh, Luth, Soleh, kaum ‘Ad, Tsamud, Sabah, Fir’aun, Korun dll. Untuk itulah kita berdoa kepada Allah swt agar tetap dan terus mencintaiNya;:”Allohummarzuqny hubbaka wahubba man yuhibbuka wal’amalal ladzy yuballighuny hubbaka waj’al habbaka ahabbal asyyaa’a ilayya—Ya Allah berikan rizki kami agar mencintai Engkau dan mencintai orang-orang yang mencintai Engkau, dan beramal setiap amal itu akan membawa cintaku kepadaMu Ya Allah, dan jadikanlah cintaku padaMu sesuatu yang melebihi dari pada mencintai segala-galanya”.

—(ooo)—
am

2 Responses to Mendekati Allah Dalam Keseharian

  1. a.madjid hasan says:

    Tulisan yang sangat baik dan sangat berguna. Terima kasih Ustadz. Wassalam.

  2. Alhamdulillah.. barakallah.. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>